Irresistible

IRRESISTIBLE

BAB I

Alkisah, sebelum manusia (Adam) ada, Allah SWT telah menciptakan malaikat dari cahaya (HR. Muslim dari Aisyah RA) dan jin dari api (Q. 15:27). Keduanya merupakan makhluk Tuhan yang sangat taat. Senantiasa mereka bertasbih dan memuji kepada Tuhannya, Allah SWT. Tiada sekalipun mereka lupa apalagi terbesit untuk membangkang.

Bumi tercipta, terbentang bersamanya gunung dan sungai (Q.2:22; 13:3; 20:53-54) dan hidup di dalamnya berbagai jenis makhluk. Bunga-bunga berwarna cerah, pohon-pohon tinggi nan teduh, hewan-hewan yang selalu bernyanyi, semuanya ikut bertasbih bersama.

Suatu saat Allah SWT berkata kepada malaikat bahwa Ia akan menciptakan makhluk baru, yakni manusia (Adam) untuk menjadi khalifah-Nya di bumi (Q.2:30). Mendengar hal ini, malaikat terkejut, iapun mempertanyakan kepada Allah SWT akan keputusan-Nya itu.

“Tuhanku, maafkan aku jika lancang, tapi bolehkah aku bertanya?” Takut-takut malaikat bertanya pada Allah SWT atas ketidak-pahamannya.

Dengan senyum Tuhannya pun menjawab “Apa yang akan engkau tanyakan atas kehendak-Ku, wahai malaikat?”

“… begini ya Tuhan, mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi itu berupa seorang manusia? Bukankah manusia itu adalah makhluk yang akhirnya selalu membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi?”

“Manusia yang akan Aku ciptakan ini berbeda. Aku akan menyempurnakannya sehingga ia akan mampu menjadi seorang khalifah di dunia,”

Setelah terdiam sejenak mendengar jawaban Tuhannya, kemudian malaikatpun melanjutkan  bertanya “Maafkan lagi ya Tuhan, Engkau telah menciptakan aku dan jin dengan sesempurnanya kami sebagai makhluk-Mu, apakah kami tidak cukup bagi-Mu ya Tuhan? Kamilah makhluk-Mu yang mencintai-Mu, senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau,”

Mendengar pertanyaan itu kemudian Allah SWT menjawab “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,”

Nampaknya Allah SWT memiliki alasan tersendiri yang memang ia tidak ingin katakan kepada malaikat.

(*Catatan: dalam surat Al Baqarah 2:30, malaikat menyebutkan manusia sebagai orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi, dengan kata lain malaikat mengetahui sifat dan perilaku manusia di bumi. Jikalau Adam adalah benar-benar manusia pertama, apa mungkin malaikat mengetahui bagaimana perilaku umum dari Adam? Padahal nyata-nyata Adam masih belum tercipta. Dari ayat ini, kita mengetahui Adam bukanlah manusia yang diciptakan pertama, namun ada sejenis makhluk seperti Adam yang senantiasa merusak dan membunuh [makhluk berpola pikir primitif yang umumnya tidak beradab, diduga makhluk inilah yang kita sebut manusia purba [http://id.wikipedia.org/wiki/Adam_dan_Hawa] ]. Adam adalah manusia sempurna yang pertama, manusia yang memiliki adab, memiliki tata krama, atau singkatnya manusia yang tinggi kodratnya. Bahkan pada dasarnya, makhluk yang memiliki sifat-sifat yang mendekati sifat-sifat Tuhan adalah manusia, oleh sebab itu manusia juga disebut sebagai makhluk mulia.)

Kemudian malaikat terdiam mendengar jawaban singkat itu. Ia pun menurut. Tidak perlu dikatakan berulang kali. Malaikat sangat sabar dan patuh. Takut untuk menanyakan tujuan rahasia Allah SWT itu.

Setelah itu, Allah SWT menugaskan para malaikat untuk mengumpulkan segenggam tanah dan meletakkannya di pintu surga. Dari tanah (tanah kering dari lumpur hitam) itulah Allah SWT membentuk sosok manusia yang sempurna, lalu meniupkan roh ke dalamnya (Q.15:26-29). Lumpur hitam kering yang mematung itu kemudian perlahan bergerak. Jari-jemari dan detak jantung berbunyi. Kemudian tanah-tanah kering luarnya merapuh dan runtuh, hingga muncul sesosok makhluk berkulit lembut dari dalamnya. Itulah Adam, yang lahir tanpa ayah dan ibu. Ia diciptakan sempurna, terdiri atas unsur jasmani dan rohani (Ruh sebagai jiwa kehidupan, akal untuk berfikir dan mencari kebenaran, hati untuk merasakan keindahan dan kesempurnaan, dan nafsu untuk berkehendak dan berkeinginan merubah kepada hal kebaikan).

Adam adalah makhluk yang beragama, beradab, dan memiliki masa depan. Ia memiliki tubuh yang besar dan tegap (tubuhnya setinggi 60 hasta atau 27,432 meter), berjalan tegak, cerdas dan mampu berbahasa dengan fasih  (HR. Imam Bukhari).

Setelah sempurna ia berdiri. Dibersihkan ia dari sisa-sisa tanah lumpur kering dari tubuhnya. Dengan air sejernih intan yang diambil dari mata air di surga, ia membersihkan tubuhnya yang kotor. Nampaklah lebih jelas kesempurnaan jasmaninya. Lembut namun kokoh. Sinarnya begitu murni.

Selesai, ia pun mengenakan pakaian putih yang bersih dari surga. Tertutuplah aurat-auratnya. Sempurnalah ia berjalan di surga. Kemudian Allah SWT memanggilnya. Dia ingin mengajarkan nama benda-benda alam semesta kepada Adam (Q.2:31-32) guna memperteguh kedudukannya sebagai makhluk yang paling mulia tercipta. Adam bersedia. Diajarkanlah nama-nama hewan, berbagai jenis tumbuhan, nama-nama benda angkasa, dan bagaimana semua ciptaan tersebut hidup dan bekerja.

Proses belajar Adam pun memakan waktu. Begitu banyak hal yang harus dipelajari Adam, hingga tak terasa berapa lama waktu berlalu. Namun, dengan akal yang cerdas, Adam mampu memahami semua itu. Mahasuci Allah yang mengetahui dan mengajarkan segalanya.

Seiring berjalannya waktu, ia pun mulai merasa sepi. Tak dipungkiri, Ia cukup merasa bahagia dapat bersama Sang Pencipta yang Agung, Tuhannya di surga, namun ia juga merasa kesepian tak memiliki teman yang sejenis (se-makhluk). Ia melihat dirinya tak sama dengan jin dan malaikat. Mereka (jin dan malaikat) tidak tunggal, mereka berkoloni, mereka bekerja dengan sesamanya dan senantiasa memberi senyum dan salam.

Terbesit dalam hati Adam untuk memiliki teman yang nyata berwujud. Yang dapat ia lihat dan memberi senyum padanya. Perasaan hati Adam pun mulai muncul pada raut wajahnya yang halus. Setiap kali Tuhannya memanggilnya untuk belajar, tampak di wajah Adam perasaan itu. Dia-lah yang Mahatahu segala sesuatu, yang nampak di wajah maupun yang tersembunyi dalam hati.

Proses belajarpun selesai. Atas perintah Allah SWT, Adam kemudian memperagakan benda-benda itu mengajarkan kembali pengetahuan yang baru didapatnya kepada malaikat (Q.2:33), hingga malaikat terkagum atas ilmu dan pengetahuan yang dimiliki Adam. Di sinilah kemudian malaikat mengakui kemuliaan atas Adam yang ia tidak mengetahuinya sebelumnya.

Lelah mengajari malaikat, Adam lalu berbaring di atas kelembutan permadani surga. Ia pun tertidur dengan pulas. Di tengah tidurnya, Allah memerintahkan malaikat untuk mengambil sebuah tulung rusuk putih Adam untuk dirubah Nya menjadi sesosok teman hidup bagi Adam (HR. Bukhari-Muslim dan kitab Kejadian 2:21-23). Allah SWT tak ingin makhluk yang dicintai-Nya bersedih hati.

Dengan hati-hati, malaikatpun mengambil sebatang kecil tulang rusuk Adam sebelah kiri. Tanpa rasa sakit. Dipilihnya yang paling bersih dan putih lagi baik. Kemudian menyerahkannya kepada Tuhannya. Setelah Allah SWT menerimanya kemudian Kun! Tulang rusuk itu kemudian bangkit dalam wujud makhluk seputih tulang. Kemudian perlahan kerak-kerak putih kapur mulai berjatuhan dan runtuh. Jari-jari lentik dan kulit yang sangat lembut mulai tampak. Tubuhnya lebih kecil dan lebih halus. Di cuci tubuh makhluk itu dengan mata air surga yang bening. Dan dipakaikanlah pakaian putih dari sutra. Lalu sempurnalah ia sebagai makhluk dari sebagian Adam. Dan dibaringkan ia tepat di sebelah Adam yang tengah terpejam.

Ketika terbangun dari tidurnya, Adam pun terkejut mendapati seorang wanita di sampingnya (Q.30:21). Ia tak pernah mengenalnya. Bahkan belum pernah melihatnya. Bertanya-tanya Adam di dalam hati. “Siapakah makhluk yang membuatku terpana di sisiku ini?!” Kemudian Allah SWT memberitahunya bahwa wanita di sampingnya itu adalah Hawa. Melihatnya, Adam merasa damai dalam hati.

Kemudian dengan titah Tuhannya, Adam memperistri Hawa dalam pelaminan di surga. Sangat bahagia dan penuh syukur, sang Adam diberikan seorang pendamping hidup (istri). Kemudian Allah SWT juga memerintahkan Adam untuk berhubungan badan dengan istrinya, Hawa (sebagai fitrahnya pasangan suami-istri). Di dalam tubuh Hawa inilah cikal bakal keturunan Adam akan lahir dan menjadi pewaris (khalifah) di muka bumi.

(*Catatan: tertulis bahwa Adam terbuat dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang kemudian dibentuk [Q. Al Hijr 15:28].Apakah Allah SWT menginformasikan “lumpur hitam” tiada maksud? Ataukah untuk menginformasikan bahwa tanah yang digunakan adalah tanah yang memiliki spesifikasi tertentu? Ya, Allah SWT menciptakan Adam dari tanah berwarna gelap, oleh sebab spesifikasi sifat tanah yang gelap, sangat memungkinkan warna kulit Adam adalah warna kulit gelap [hitam atau sawo matang?] kemudian Allah SWT juga menciptakan hawa dari bagian tubuh Adam, yang artinya memiliki elemen pembentuk yang sama (substansi material yang sama). Anehnya kenapa tidak dibuat baru saja dari tanah yang sama yang digunakan untuk membuat Adam? Karena Allah SWT ingin membuat Hawa memiliki material sempurna sama dengan Adam. Kemudian dipilihlah langsung dari bagian tubuh Adam, yakni tulang rusuknya. Tulang rusuk ini juga bisa berarti “mengambil DNA dari sebagian tulang rusuk” Adam, untuk kemudian membuat makhluk yang serupa Adam namun berbeda [secara teknologi, teknik yang digunakan Allah SWT pastinya lebih hebat daripada teknologi/sistem kloning]. Tulang memiliki warna yang putih alami, sehingga sangat mungkin bahwa Hawa tercipta berwarna kulit cerah [putih atau kuning langsat?]. Hal ini juga yang menyebabkan Qabil dan Iqlima memiliki warna kulit cerah, sedangkan Habil dan Labuda berwarna kulit gelap. Warna kulit Labuda yang gelap inilah yang membuat Kabil kurang menyukainya dan lebih memilih Iqlima yang berkulit cerah. Pada akhirnya Habil terbunuh di tangan Qabil (Kisah Habil dan Qabil juga terdapat dalam Al Quran Q. Al Maidah5:27-31). Lagipula secara teoritik, jika dua orang dengan campuran jumlah melanin yang pas antara genetik dominan dan resesif, maka semua jenis warna dalam manusia tersebut akan muncul. Bukankah nanti dari Adam dan Hawa ini akan muncul ras-ras yang beragam warna dan bentuknya? Dan dari penciptaan Hawa ini kemudian muncul sebuah prosa (sumber aslinya saya tidak tahu, tapi saya mengutip dari sebuah artikel berikut.)

http://alwaysanita.wordpress.com/2008/09/17/kenapa-hawa-diciptakan-dari-tulang-rusuk-adam/)

Woman was created from the ribs of  a man

Not from his head to be above him

Not from his feet to be walk upon him

But from his side to be equal

Near to his hand to be protected

And close to his heart to be loved

***

BAB II

Adam telah menjadi makhluk yang sempurna dan lengkap bersama Hawa. Kemuliaan dan ridha-Nya senantiasa bersama mereka. Suatu saat, dikumpulkanlah Adam beserta makhluk Allah SWT lainnya, baik itu malaikat maupun jin. Diumumkanlah oleh Allah SWT suatu perintah untuk melakukan suatu penghormatan kepada Adam sebagai makhluk mulia pilihan Allah SWT.

Diperintahkanlah bagi malaikat dan jin untuk bersujud kepada Adam sebagai rasa hormat. Ini adalah penghormatan atas kemuliaan ciptaan Allah SWT yang benar-benar sempurna, mewakili nafas Tuhannya, mewakili sebagian sifat-sifat keagungan-Nya. Namun ketidak-pahaman jin menyebabkan ia takabur sedangkan malaikat patuh untuk bersujud (Q.2:34). Malaikat tahu dan mengakui atas kemuliaan Adam.

Namun jin merasa cemburu akan dimuliakannya Adam di sisi Allah SWT. Jin merasa semua makhluk adalah sama derajatnya di mata Tuhannya. Apalagi selama ini dialah yang senantiasa mencintai Allah SWT dan selalu taat kepada-Nya. Jin merasa “bingung” dengan keputusan Tuhannya. Ia merasa Tuhannya telah keliru dengan memerintahkan dirinya dan malaikat untuk bersujud kepada Adam. Ia bertanya-tanya bagaimana mungkin makhluk yang jelas-jelas baru tercipta dapat menduduki posisi paling mulia di sisi Allah SWT, padahal nyata belum pernah terbukti ketaatannya. Sedangkan ia dan malaikat yang telah tercipta lebih dahulu, senantiasa taat dan begitu cinta kepada Allah SWT bisa menjadi nomer dua.

(*Catatan: hal di atas seperti kita bayangkan jika ada seorang suami memperkenalkan istri muda kepada istri tua dan memuliakan istri muda dengan memberikan kursi kepada istri muda dan membiarkan istri tua duduk di lantai tanpa kursi. Perasaan seperti yang dialami istri tua itulah yang menyebabkan jin enggan bersujud kepada Adam. Yang saya masih belum paham, mengapa Allah SWT hanya mengajarkan pengetahuan nama-nama itu kepada Adam, dan mengapa hanya kepada malaikat Adam mengajarkan pengetahuannya, kemanakah jin pada saat itu?)

Alhasil, karena kecemburuannya terhadap kasih Allah SWT yang lebih memuliakan Adam daripada jin ataupun malaikat, jin pun takabur dan enggan bersujud kepada manusia yang terbuat dari tanah kering dan hitam. Keengganan jin untuk bersujud ini membuat Allah SWT menyebut jin tidak taat sehingga Dia menggolongkannya tersesat (Q.7:11-13; 15:32-35). Anggapan diri sebagai makhluk yang lebih taat inilah yang  menyebabkan jin digolongkan sebagai makhluk yang sombong ketika itu. Jin yang sombong dan takabur inilah kemudian disebut iblis. Iblis merupakan nama pemberian untuk menghinakan jin. Konon nama jin yang tidak patuh/ iblis itu adalah Azazil.

(*Catatan: Ahli bahasa Arab mengatakan bahwa kata iblis tersebut berasal dari kata ablasa yang berarti “bingung” atau “putus asa”, atau dari kata balasa yang berarti “tidak memiliki kebaikan”. Iblis merasa bingung dan putus asa karena diputuskan dari rahmat oleh Tuhan yang dicintainya selama ini. Dengan demikian, iblis merupakan sebutan hinaan bagi jin yang terkutuk dan terputus dari rahmat Allah SWT, sedangkan Azazil adalah nama dari iblis tadi. Lalu apakah setan itu? Kata “setan” atau syaitān (Arab) berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “lawan” atau “musuh”.  Dengan demikian setan adalah jin kafir yang senantiasa menggoda manusia. Namun beberapa ahli juga menyebutkan bahwa setan berbeda dengan jin, sehingga setan selain menggoda manusia, ia juga menyesatkan jin.)

Melihat keengganan jin yang diperintahkan Allah SWT untuk bersujud, Allah SWT pun terkejut. Dia bertanya kepada jin.

“Mengapa engkau tak bersujud kepada nya (Adam), wahai jin?”

“Ampuni aku ya Tuhanku, namun apakah pantas bagi diriku bersujud pada makhluk lumpur ini, wahai Tuhanku?”

“Apakah yang membuatmu merasa lebih baik darinya, wahai jin yang terbuat dari api?”

“Aku merasa bingung, aku senantiasa bertasbih memuji-Mu serta selalu mensucikan-Mu, aku mencintai-Mu lebih dahulu dan lebih dalam daripadanya (Adam). Apakah ia pernah melakukan segala ketaatan dan kebaikan yang pernah kulakukan pada-Mu ya Tuhanku?”

“hmm,…” Allah terdiam sejenak, “…Jika engkau memang benar mencintai-Ku dan taat pada-Ku, maka turutilah perintah-Ku, sujudlah engkau kepadanya (Adam)”

Jin tetap diam. Ia tidak bersujud kepada Adam karena ia masih belum menerima kemuliaan Adam. Maka Allah SWT melanjutkan,

“Baiklah, kini engkau sudah menjadi makhluk yang tak taat pada Ku, kusuruh kau sujud kepada Adam dan engkau menolaknya. Terkutuklah engkau wahai jin dan tidak ada tempat di surga ini bagi makhlukku yang tak taat lagi terkutuk!” lanjut Allah SWT yang kecewa dengan peringai jin yang tak menuruti perintah-Nya.

“ta.. tapi… ya Tuhanku, dia…” Terbata ia berkata. Jin tak pernah menduga Tuhannnya akan berkata demikian.

“… Iblis kau!”

“….” Sekejap jin terdiam. Terkejut dirinya mendengar ucapan Tuhannya. Seketika itu juga hatinya hancur dan putus asa.

***

BAB III

Dengan ucapan Tuhannya yang menghinakan dirinya, jin merasa kecewa dan sedih. Namun, ketaatan dan kecintaan jin terhadap Allah SWT, membuatnya menerima disebut sebagai makhluk yang hina, dan ikhlas untuk dikeluarkan dari surga. Sebelum menerima hukumannya, ia sempat mengajukan kepada Allah SWT dua buah permohonan (Q.15:36-40). Yang pertama yakni umur panjang hingga hari kiamat dan yang kedua adalah ijin untuk menggoda Adam serta anak cucunya (Q.7:14-18). Jin memohon ijin untuk diberi kesempatan membuktikan kebenaran opininya (bahwa manusia tidak se-mulia yang Tuhannya pikirkan). Ia meminta ijin Allah SWT agar ia diperbolehkan untuk memberikan semacam “tes” ketaatan kepada Adam. Karena Allah SWT juga pernah mencintai jin sebagai makhluknya (dan jin juga pernah sangat taat kepada Allah SWT, bahkan ia tidak menentang Tuhannya ketika Allah SWT mengusir dan mengutuknya), maka dijinkanlah oleh Allah SWT akan kedua permohonannya itu.

“Ya Tuhanku, aku rela engkau usir diriku dari surga ini. Jikalau menurut-Mu aku salah, maka salahlah diriku. Namun… bolehkah aku meminta padamu barang beberapa hal?”

“Apakah itu wahai jin?”

“Aku mohon, berikanlah aku kesempatan untuk membuktikan ucapanku ini, ya Tuhanku. Apabila memang manusia-Mu itu (Adam) benar-benar taat maka hukumlah aku sesuka-Mu, namun jika ternyata manusia-Mu tidak setaat diriku, maka berikanlah aku waktu tangguh,”

“Baiklah, … sampai kapankah engkau ingin diberikan waktu tangguh, wahai jin?”

“Tuhanku, aku tahu Engkau akan menjadikan manusia-Mu itu (Adam) sebagai khalifah di bumi dan hidup di sana berserta keturunannya, maka bolehkah aku meminta waktu hidup yang sama panjang hingga manusia-Mu di bumi tiada?”

“Akan Aku penuhi permohonanmu”

Jin pun diberi kesempatan itu. Adam bersama Hawa pun diberikan waktu tangguh untuk tinggal di surga untuk jin membuktikan kebenaran ucapannya. Selama di sana Allah SWT memperbolehkan Adam dan Hawa memakan buah-buahan yang nikmat dan merasakan kebahagiaan serta tak mengalami kesusahan. Namun mereka dilarang untuk mendekati dan makan dari sebuah pohon (Q.2:35; 7:19).

“Hai Adam, tinggalah engkau bersama istrimu di surga ini, dan makanlah dari surga ini sepuas-puasnya sesuka kamu berdua, tetapi janganlah sesekali engkau mendekati pohon ini (pohon yang berada di tengah sebuah taman) yang akan menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”

(*Catatan: sebenarnya Allah SWT tidak pernah menyebutkan nama atau wujud pohon terlarang itu. Namun setan (jin kafir) menamakannya pohon Khuldi (Q.20:120) yang konon adalah pohon kekekalan yang memberikan keabadian. Namun saya menarik kesimpulan bahwa itu bukanlah pohon Khuldi yang seperti disebutkan oleh setan. Jikalau itu benar pohon Khuldi (kekekalan), maka seharusnya Adam dan Hawa jika memakannya tidak akan mati hingga akhir jaman. Menurut cerita lain (Alkitab Kejadian 3:22), di surga terdapat dua macam pohon, yakni pohon kekalan dan pohon pengetahuan. Pohon yang dimakan Adam dan Hawa itu adalah pohon pengetahuan (Alkitab Kejadian 3:1-7). Sehingga saat ini manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat dalam dan suka mencari kebenaran akan ilmu dan berkembang budayanya serta pola pikirnya sangat cepat.)

Dengan ujian itulah ketaatan Adam dan Hawa dipertaruhkan dan kebenaran opini jin akan dibuktikan. Namun jin mengetahui satu hal, tanpa adanya hasutan, Adam dan Hawa tidak akan mungkin mendekati pohon yang telah jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT tersebut. Sehingga jin pun menyusun skenario untuk menjatuhkan Adam dan Hawa. Dengan perlahan ia mendekati keduanya. Begitu ramah dan meyakinkan. Bahkan jin membuat seolah-olah perkataannya adalah kebenaran dan nasehat yang baik. Dengan tipu daya yang ia buat, (nantinya) Adam dan Hawa terlupa akan larangan Tuhannya, dan memakan buah dari pohon tersebut (Q.2:36; 7:20-22).

***

Keramahan jin sangat tulus dan begitu lembut. Tak satupun dapat mengira kebohongan ada di dalamnya.

“Wahai Adam mengapa engkau menjauh dariku?”

“Tuhan telah mengingatkanku untuk menjauh darimu,”

“Engkaulah yang mulia di sisi-Nya, turutilah Ia, maka engkau akan selamat,”

Adam pun mengabaikan jin, walau tetap mendengarkannya. Ia menyadari sebagai makhluk Tuhan yang baik dan mulia tidak pantas ia bermusuhan di atas tanah surga yang suci. Ia tidak ingin menodai kesucian surga.

Jin pun melanjutkan, “Tak apa engkau mendiamkanku, aku rela. Tetapi aku hanya memintamu sebagai teman bicaraku. Kini diriku sendiri, putus sudah persaudaraanku dengan malaikat, putus sudah cinta Tuhanku kepadaku… aku merasa bagai makhluk usang tak terpakai…. makhluk hina terbuang… “

Sambil berlinang air mata, jin berkata dan bercerita. Suara sayup-sayupnya menambah kesedihan di dalam hati yang mendengarnya.

“Engkau adalah makhluk yang mulia pilihan Allah SWT, pastinya engkau juga memiliki kasih dan sayang kepada para makhluknya… aku yakin, engkaupun bisa merasakan kepedihan yang aku rasakan ini…”

Adam yang tadi mengabaikan, sedikit demi sedikit mulai mendengarkan. Jin pun melanjutkan.

“Aku benar-benar tak paham atas kesalahanku ini, aku benar-benar tak mengerti…. jika pun aku salah, apa sebegitunya Allah SWT menghinakanku dengan mengusirku dari surga?…. bahkan ia mengutukku sebagai makhluk yang sesat…”

“…padahal engkau pun tahu, selama ini aku juga sangat taat pada diri-Nya. Dahulu, kami (malaikat dan jin) selalu bertasbih setiap saat, mengagungkan dan mensucikan nama-Nya, dalam tiap detik dan tiap langkah kami… namun, kini seakan semua itu tak berarti apapun… ketaqwaanku dahulu seakan tak berbekas di hati-Nya…. seakan semua itu tak pernah terjadi…. seakan aku tak pernah menjadi makhluk-Nya yang senantiasa ada untuk-Nya…”

“…aku sadar…. kepedihanku ini tak kan berarti apapun untukmu, biar saja ku simpan kepedihanku ini, biarlah aku yang menjadi salah sendiri….”

Dengan sangat dekat dan dalam, jin berkata kepada Adam. Ia mengatakan semua itu dengan cara yang benar-benar mengetuk hati. Bagaikan sesorang yang lemah dan memohon pencerahan di dalam hati. Hal ini terjadi berulang kali dengan cerita-cerita baru yang senantiasa terdengar sangat tulus dan jujur dari dalam diri.

“…aku tahu engkau tak akan berkata apapun akan diriku, aku tahu engkau akan terus terdiam… tak apa, aku tahu diri… tak pantas engkau berbicara denganku… namun sebaiknya engkau juga paham, bahwa aku tak pernah mengatakan hal yang tidak benar…. kecuali Allah SWT mengijinkanku…”

Setelah sekian waktu, akhirnya Adam mulai merasakan bahwa jin benar-benar tulus ingin berteman dengan-Nya. Ia bercerita mengenai banyak hal. Beberapa mengenai keindahan dan taman surga, beberapa mengenai kehidupannya bersama malaikat dan Allah SWT yang ia cintai, dan beberapa yang paling sering adalah mengenai perasaan dirinya yang hancur berantakan dan sedih….. Namun tak dipungkiri hampir seluruh yang ia ceritakan selama ini adalah benar. Adam mulai merasa “tak masalah” mencoba berteman dengan jin.

“…aku tak tahu cerita mu benar atau salah… atau mengandung kebenaran atau hanya berkata bohong semata, namun engkau benar… tiada kebohongan dan kebenaran di dunia ini tanpa ijin Allah…” akhirnya mulailah Adam melunak.

“…itu semua keputusanmu dan hakmu sepenuhnya untuk percaya atau tidak kepadaku… namun aku sadar, kewajibanku adalah mengatakan kebenaran kepadamu,” balas jin.

Hingga suatu saat setelah yakin bahwa kepercayaan Adam telah jatuh ketangannya, maka jin pun segera melakukan langkah terakhirnya.

“Wahai Adam, maukah kau menemaniku berjalan-jalan di sekitar surga ini sembari mendengarkan ocehan dan cerita-cerita tak bergunaku ini? Dan sekali lagi, tak perlu kau menanggapi semua yang kukatakan… aku cuma butuh kawan bicara…”

Kemudian Adam pun berdiri, dan Hawa pun mengiringi, menandakan mereka bersedia menemani jin. Kemudian berjalanlah mereka di sekitar tanah surga sembari jin bercerita macam-macam hingga tak sadar bahwa jin menuntun mereka ke tanah terlarang di mana terdapat sebuah pohon yang dilarang untuk didekati.

Merasa berada di tempat yang baru, maka Adam dan Hawa pun penasaran dengan di mana mereka berada sekarang. Tampak mereka berdua melihat sekeliling dengan wajah yang penuh tanda tanya. Melihat hal itu, maka jin pun mencoba mengobati rasa penasaran mereka.

“Inilah taman kekekalan, wahai Adam yang mulia. Inilah taman yang selalu indah dimana air dari sungainya tak pernah kering, bunga-bunganya tak pernah layu, dan pohon-pohonnya tak pernah mati…”

Kemudian Adam melihat pohon yang tumbuh menyendiri di sisi bukit di tengah taman itu, ia melihat pohon itu sangat menarik dan kembali mengutik rasa penasarannya. Kemudian jin pun menjawab rasa penasaran Adam.

“Wahai Adam, itulah pohon Khuldi, pohon satu-satunya sebagai obat atas segala macam penyakit, bahkan buah dari pohon tersebut dapat mengekalkan yang memakannya, memberikannya cahaya keabadian bagai malaikat…”

Alis mata Adam dan Hawa terangkat, mereka terkejut mendengar hal itu. Itu adalah hal baru. Tuhannya belum pernah memberi tahunya akan hal itu. Adam yang terlahir dengan nafsu dan hati, mendengar informasi yang sangat menarik itu, ia jelas semakin merasa penasaran. Jin memanfaatkan celah.

“… mari yang mulia, ku antarkan engkau untuk melihat-lihat…. tak apa. Engkau nanti akan aku tunjukkan bagaimana pohon ini begitu menakjubkan….”

Selangkah demi selangkah, ia mendekati pohon itu bersama jin. Jin memimpin untuk berjalan lebih di depan. Dan ya, pohon itu memiliki karakteristik fisik yang berbeda. Setelah lebih jelas ia dapat melihat, dari jarak ia mengamati, wewangian yang unik-pun mulai tercium… ada wewangian khas yang belum pernah ia kenali sebelumnya, baunya harum dan manis (wanginya membuat orang terangsang, menggoda otak untuk mencium lebih dalam aromanya).

Jin pun mulai melihat bahwa efek aroma dari pohon itu membuat Adam dan Hawa semakin ingin mendekati pohon itu. Rasa penasaran keduanya, ditambah wewangian pohon yang menggoda, semakin meyakinkan keduanya untuk mendekat, mengamati dengan lebih jelas. Selangkah demi selangkah mendekati pohon tersebut, semakin dekat, semakin aromanya kuat. Nafsu dan akal yang penasaran semakin kuat. Sampai akhirnya ia tak sadar berjalan beberapa langkah lebih maju daripada jin itu sendiri. Jin pun membiarkan Adam dan Hawa terhipnotis akan rasa curious-nya sendiri.

“…ya, itu adalah aroma dari kayu pohon ini, wanginya sangat harum bukan?… nah, cobalah cium wangi dari bunganya… bunga kecil merah yang menghiasi tiap pucuk-pucuk daunnya itu. Bunga itulah yang mengekalkan keindahan bunga-bunga di sekitar taman ini… tak tertandingi keindahannya…”

Hawa pun langsung tertarik, ketika beralih melihat bunga kecil merah yang menggantung di sisi atas dahan kecil darinya. Dirinya terkejut dan spontan mendekat, berjalan mendahului Adam di depan, terpesona oleh indahnya bunga daripada pohon itu. Hingga sampai tiba tepat di bawah pohon. Selangkah lagi Hawa menjinjit kecil untuk meninggikan tubuhnya, mencoba menggapai bunga merah kecil yang berada di sisi atas kepalanya.

“uh!” iya pun berhasil menangkap bunga kecil itu, dan memetiknya dengan hati-hati. Terpetiklah bunga kecil dan, ups… Hawa terpeleset dan hampit jatuh. Untunglah dengan sigap, Adam menangkapnya, menahan tubuh kecil Hawa dengan tangan-tangannya kuat-kuat.

Hawa kembali berdiri dengan mata tertuju pada bunga kecil di tangannya, ia mengabaikan kebaikan Adam.

“…inikah bunga kecil itu? Indah ya?! Dan wanginya… benar-benar khas… jauh lebih harum daripada wangi yang ku cium tadi….”

Adampun segera mendekati Hawa dengan perlahan, ia juga sama tertarik dengan Hawa akan keindahan bunga pohon itu… bahkan wanginya… kini lebih harum lagi tercium. Keduanya semakin hilang akal, mencium wangi bunga yang aromanya jauh lebih kuat daripada kayu pohonnya. Bunga itu memiliki wangi yang benar-benar menggoda. Ketika tarikan nafas pertama, membuatmu semakin ingin mencium wanginya, seperti menggoda nafsu dalam diri. Tarikan nafas kedua, kau akan segera merasakan harumnya surga hingga ke ulu hati, sangat dalam tak tertandingi. Tarikan nafas yang ketiga, wanginya akan segera membuat akalmu bercampur kesana-kemari, bagai tak dapat berpikir, godaan ini semakin kuat, dan membuatmu hilang akal.

Jin mulai menyadari keadaan ini. Ia langsung menghentikan tour-nya.

“Baiklah yang mulia. Sepertinya aku sudah selesai menjelaskan semuanya, bagaimana kalau kita kembali berjalan ke taman surga yang lain?”

Sontak Adam tersadar dari lamunannya, namun pikirannya masih terjerat keindahan dan wangi bunga pohon itu. Dia dan Hawa mulai mencoba melihat keindahan pohon itu sekali lagi untuk terakhir kalinya. Sayang sekali rasanya meninggalkan kesempatan dengan pohon ini. Mereka pandangi dengan seksama dan menyeluruh sebelum akhirnya pergi.

Jin melihat keduanya berlagak seperti masih ingin berada di dekat pohon itu pun, langsung bertindak.

“yang mulia?…” jin memanggil Adam untuk kedua kalinya, seraya mengingatkan mereka bahwa kunjungannya telah selesai. “… mari kita lanjutkan perjalanannya,”

Untuk terakhir kalinya, Adam dan Hawa kembali melihat pohon yang menakjubkan itu. Lalu…  seketika Adam terkejut melihat sesuatu yang baru di sisi dalam ujung suatu ranting. Semakin ia penasaran lagi, dan mendekat. Ia mulai melihat lebih jelas benda itu. Terasa janggal dan Adam yakin itu bukan bunga. Itu sesuatu yang lain. Itu… buah kah?

“….hh…. baiklah Adam,” jin pun tak bisa berbuat apa-apa, ia pun menuruti keingin-tahuan Adam. Ia mulai mencri-cari apa yang dilihat oleh Adam. Mengetahui itu adalah buah pohon ia pun memberitahu Adam “…itu adalah buah dari pohon ini, yang mulia,”

Adam hanya dapat melihat sedikit saja, karena dedaunan pohon itu menutupi. Kemudian Hawapun tertarik juga ingin melihat, ia berusaha mencari-cari arah pandangan Adam. Ia memperhatikan ke segala ujung ranting mana yang dimaksud oleh Adam. Melihat Hawa yang bingung, Adam pun mengarahkan pandangan Hawa menuju ranting kecil di antara dedaunan hijau yang muda di sisi dalam pohon. Menunjuk pada suatu titik berwarna merah berkilat. Hawapun terkejut. Mereka terkesima.

“Sudahkah yang mulia, Adam?…” jin memotong ke-terpesona-an mereka. “sudah waktunya berjalan, mari kita lanjutkan…” jin sedikit memaksa.

Dengan berat hati Adam dan Hawa meninggalkan pohon itu. Mulailah mereka berpaling perlahan-lahan. Baru saja akan mengangkat kaki dari tempatnya berpijak untuk berjalan, sesuatu jatuh tepat di atas kepala Adam.

Tukk!

“uh!” sontak kecil Adam, karena terantuk kepalanya oleh sesuatu berwarna merah. Lalu benda itu jatuh dan menggelinding tepat di depan langkah kaki Hawa. Sambil menahan sakit di kepalanya dengan sebelah tangan, Adam pun cari-cari apa yang menimpanya. Ternyata buah merah dari pohon itu.

Sontak keduanya terkejut. Dengan rasa tak percaya mereka melihat buah itu. Hawa pun memungut buah ranum yang terjatuh itu dengan tangan kecilnya. Diamatinya dengan perlahan. Adampun mengintip untuk melihat lebih jelas. Buah itu benar-benar merah. Merahnya semerah darah. Kulitnya halus berkilat bagai mutiara. Buahnya begitu padat, namun tak juga keras. Aromanya begitu manis dan menggoda, pertanda sudah ranum dan masak.

Mereka berdua pun melihat buah itu penuh tanda tanya. Apakah benar ini buah? Bagaimana isi di dalamnya? Bagaimana rasanya? Enakkah? Semua pertanyaan semakin berbuncah dalam hati keduanya. Mereka pun tak kuasa menahan tanya.

“… ehm… apakah ini buah pohon ini, wahai jin?”

“Ya, wahai Adam, inilah buah pohon ini,”

“…ehm… bagaimana rasanya, wahai jin?”

“Jangan kau tanyakan padaku rasanya, aku tak pernah mencobanya… apalagi tahu rasanya… aku hanya mendengar ceritanya…”

Menjawab sebagian keingin-tahuannya, Adam dan Hawapun mencoba mencium baunya, mencoba menerka rasa dari wangi buahnya, “wanginya sangat ranum, apakah rasanya manis?”

“aku tidak tahu, wahai Adam yang mulia, aku belum pernah mencobanya. Mungkin manis. Kira-kira menurutmu bagaimana?…”

Adampun mencium wangi dari buah yang berada dalam genggaman Hawa itu lebih dalam. Mencoba sekali lagi menerka rasa buahnya. Hawapun melakukan hal yang serupa, diputar-putarnya buah yang tadi jatuh itu. Bentuk dan warnanya sangat memikat, aromanya begitu ranum. Begitu penasaran Hawa akan rasa buah itu. Sepertinya sangat manis, apakah benar-benar nikmat?

“ayo kita pergi…” jin mulai tak sabar pada keduanya. Sayangnya, Adam dan Hawa nampak lebih asyik dengan benda merah yang kini tengah di tangan mereka. “… baiklah, aku pergi… “ lanjut jin untuk terakhir kalinya. Ia pun berpaling dan mulai melangkah pergi meninggalkan keduanya.

Sementara, di bawah pohon di atas bukit. Rasa penasaran Adam dan Hawa mulai menggelitik hati keduanya untuk mencoba. Buah merah ranum yang berkilau itu berputar-putar di dalam genggaman kecil Hawa. Jari-jari kecilnya mulai bermain menyelimuti buah itu. Tak tahan akan godaan nafsu, mulailah Hawa menyentuhkan hidungnya seraya mencium kembali aroma buahnya. Wanginya menggoda. Aromanya manis. Memang tak sewangi bunganya, namun ini jauh lebih dalam. Sangat menggiurkan. Rasanya benar-benar ingin.

Kemudian, kruk! Buah itu terluka oleh gigi-gigi Hawa.

Adam terkejut. “A… a… Apa yang… kau lakukan Hawa?” tanya Adam kekasihnya dengan terbata. Sayangnya, Hawa tak menggubrisnya. Malah, tak puas dengan rasanya yang manis, Hawa pun mulai menyentuhkan kembali bibirnya yang merah pada buah itu, dan tak dapat dipercaya, ia menggigit buah itu sekali lagi, hingga sari buahnya menetes di bibir dan tangan Hawa. Adam segera menghentikan tingkah kekasihnya. Ia rebut buah merah yang telah tergigit itu dari tangan Hawa. Di dapatinya buah merah yang basah oleh sari buah, mengalir diantara bekas gigitan Hawa, kekasihnya. Ia dapat melihat bekas gigi-gigi kecil Hawa yang mengitari putihnya daging buah yang luka.

Daging buah itu begitu putih, tampak padat dan sangat lembut, bahkan sari-sari buah yang kini mengalir di tangan Adam pun sangat jernih berkilat keemasan. Adam pun mulai mendekatkan buah yang terluka itu ke batang hidungnya.Mencium wanginya. Aromanya sangat memikat, benar-benar manis, benar-benar kuat. Tak kuasa adam coba sedikit menyentuhkan bibirnya ke luka bekas gigitan Hawa tadi. Mulailah sari buah itu menempel di bibirnya, kemudian mengalir masuk ke dalam mulutnya, sari buah itu terasa begitu manis. Ada rasa dan aroma yang berbeda, lebih tajam daripadasaat buah itu masih utuh. Ini menarik. Membuat semakin kuat rasa penasarannya. Lidahnya mulai beradu satu dengan sekecup rasa yang sangat menggoda tadi. Ia pun tak lagi kuasa menahan diri untuk sekadar mencicipinya.

Tergigitlah untuk yang ketiga kalinya buah itu. Luka gigitan itu membuat sari buahnya mengalir ke tangan dan bibir Adam, semakin aromanya menggoda, semakin manis ketika di dalam mulut. Sari buahnya memang benar-benar manis, dagingnya begitu lembut dan padat. Ini adalah kenikmatan. Sensasi buah itu mulai menyelimuti keduanya. Digigitnya buah itu oleh Adam untuk yang kedua kalinya, rasanya kali ini benar-benar hingga ke ulu hati. Benar-benar dalam dan nikmat. Tak pernah ia merasa kenikmatan yang begitu kuat.

Hingga keduanya merasa sangat ringan, bagaikan terjatuh dari udara. Rasanya tak diragukan lagi. Lebih kuat sensasinya dari wangi bunganya. Kali ini tak usah tiga kali engkau mencoba, hatimu mulai bergolak, pikiranmu mulai bercampur. Kau akan merasakan api dari tubuhmu begitu hangat dan seolah dirimu melayang. Dari ujung jari kaki hingga ujung kepalamu merasa sangat rentan dan peka akan sentuhan. Hingga begitu nikmat rasa sebuah sentuhan. Kulit ini terasa menjadi sangat lembut dan tipis, hingga sentuhan dari bajumu terasa benar-benar nikmat. Ini membuatmu semakin ingin disentuh. Semakin gila rasanya tubuhmu. Baju yang dikenakan ini terasa begitu hangat mengganggu, setiap sentuhannya pada kulit begitu nikmat. Rasanya begitu ingin, dan ingin. Ini sangat kuat. Hingga ubun-ubun mu terasa dibelai dengan lembut. Jiwamu merasa hampir melayang. Jantungmu berdegub kian cepat. Adrenalin terpacu. Berdetak cepat dan kian cepat. Ini sangat dahsyat. Nikmat dan hebat! Godaan ini begitu merangsang ubun-ubunmu. Hingga tak sadar kenikmatannya membuatmu menggeliat-geliat di bawah bagai manusia yang berbuncah kelalaian nikmat. Helaian-helaian baju ini kini benar-benar mengganggu kenikmatan. Lepaskan. Lepaskan semua yang menyelimuti kenikmatan ini. Biarkan dirimu menggapai puncaknya. Biarkan dirimu merasakan ujung kenikmatan utama. Ini benar-benar menakjubkan. Ini hebat. Dahsyat!

Hilang kendali diri, keduanya benar-benar terbuai oleh sensasinya. Melemas hingga ke ujung jari. Buah merah ranum itupun terlepas dari tangan Adam. Jatuh. Menggelinding ke bawah bukit. Menggelinding jauh menuju langkah kaki jin.

Tukk!

Terantuk kaki jin oleh sesuatu. Dan benda itu tepat berhenti di depan langkah kaki kirinya. Jin menahan langkah. Diperhatikan benda aneh itu. Bentuknya tak sempurna. Cacat di beberapa sisi. Ada luka putih di beberapa bagian. Dan sisanya berkilat… merah! “Astaga! Ini… merah! Ini…”

Seketika jin menoleh kembali ke belakang. Pikirannya galau atas kemungkinan-kemungkinan gila. Semoga dugaannya salah. Dia arahkan matanya menuju ke atas bukit. Dua sosok manusia tengah menggeliat-geliat dengan telanjang. Mereka seperti kerasukan. Rasa bingung. Heran. Terkejut. Takut. Semuanya bercampur.

“A… apa mereka…..” Jin tak dapat bicara. Kekawatirannya menjelma menjadi nyata. Dugaannya tak salah. Ia melihat jari-jari keduanya membasah. Bibir-bibir yang meneteskan kilau keemasan. “… ini gila! Apa yang telah mereka lakukan?!…” jin benar-benar tak percaya apa yang ditunjukkan matanya. “… semoga ini salah…” Ia perhatikan sekali lagi. Meyakinkan diri. Tapi ternyata matanya benar. Ia tengah berdiri melihat Adam dan Hawa mabuk. Keduanya hilang akal.

“…ya Tuhan… ampuni aku…” Ia benar-benar takut. Ia tak pernah bermaksud membuat keduanya memakan buah itu. Ia merasa godaan itu sudah sangat cukup dengan membawa mereka dekat dengan pohonnya. Tak perlu memakannya. Jin pun merasa bingung tidak karuan. Dia tak tahu kalau perbuatannya malah membuat segalanya semakin runyam. Dia benar-benar merasa khawatirakan hal ini. Bagaimana reaksi Tuhannya apabila tahu mengenai hal ini? bahkan dirinya saja tak pernah berani memakan buah itu. Nanti, apa yang harus ia katakan pada Tuhannya, lebih-lebih apakah ia bisa mempertanggung-jawabkan semua ini. Tubuh jin pun gemetar, ia terdiam terbata, penuh ketakutan. “Ini salah. Ini benar-benar salah. Apa yang telah aku lakukan? Oh…. Tuhan, ampuni aku…. ini tak seperti yang ku kira….”

***

Maka, setelah keduanya merasakan sensasi buah dari pohon tersebut, pakaian dari tubuh mereka pun tanggal dan nampaklah aurat-aurat mereka. Setelah sadar akan keadaan mereka yang tanpa busana, merekapun segera menutupi aurat mereka dengan dedaunan.

(*Catatan: dalam hal ini, akan sangat aneh apabila memakan buah kemudian tiba-tiba pakaian Adam dan Hawa terlepas begitu saja. Pada Al A’Raaf 22 tertulis bahwa “…Maka tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun surga…”. Dalam hal ini, kata yang dipilih adalah “merasakan” bukan “memakan”, berarti baru terasa saja sudah mengakibatkan pakaian keduanya terlepas. Kata “merasakan” juga sangat berhubungan dengan “reaksi” atau “efek” yang “dirasakan” keduanya ketika memakan buah itu. Sehingga dalam hal ini efek rasa dari buah itu sangat memungkinkan berupa hilangnya akal sehingga mereka lupa dan pakaian mereka terlepas. Dengan kata lain buah dari pohon tersebut memiliki efek terhadap rangsangan otak yang menyebabkan manusia yang mengkonsumsinya lupa diri [mabuk]. Bayangkanlah apa yang akan dilakukan sepasang kekasih ketika mereka berdua sedang mabuk (dan terangsang)? Yah…. mereka pastinya juga akan melakukan hal yang sama dengan Adam dan Hawa, menanggalkan pakaiannya.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa buah tersebut bukanlah buah kekekalan namun buah pengetahuan. Jikalau memang demikian, berarti efek mabuk yang dirasakan keduanya adalah hal yang paling tepat. Apakah anda pernah mendengar istilah “orang-orang yang terobsesi dengan ilmu pengetahuan”? atau “ilmuwan-ilmuwan yang gila”? itu semua karena sebenarnya ilmu pengetahuan itu sangat adiktif, ketika manusia mengetahui suatu hal maka ia akan lebih tertarik untuk mengetahui hal-hal yang lain. Logikanya, apakah Anda pernah tertarik dengan gossip? Kemudian mulai mencari-cari informasi lebih lainnya yang membuat Anda menjadi semakin penasaran?! Hal seperti itulah yang terjadi pada korban ilmu pengetahuan: mabuk, lupa diri, addicted!)

Seketika, Allah SWT menyeru kepada keduanya. Mengingatkan keduanya kembali atas larangan Allah SWT untuk menjauhi pohon tersebut dan agar menjauhi dari godaan setan (jin kafir). Menyadari menyesali perbuatannya, Adam dan Hawa merasa menyesal. Merekapun memohon ampunan kepada Allah SWT. Kecintaan Allah SWT kepada Adam dan Hawa membuat-Nya berkenan menerima tobat dan mengampuni kesalahan mereka (Q.2:37; 7:23). Kemudian Allah SWT mengeluarkan keduanya dari surga untuk tinggal (berdiam dan hidup) di bumi. Memberikan keduanya kesempatan melanjutkan kehidupannya di bumi yang sejatinya memang merupakan tempat tinggal mereka yang sesungguhnya.

Lalu Dia menyampaikan beberapa hal: Dia mengingatkan Adam bahwa (1) keturunannya nanti akan ada yang saling bermusuhan (Q.7:24) (hal ini terbukti pada kisah Habil dan Kabil [Al Maidah:31] dimana salah satu keturunan Adam membunuh saudaranya sendiri). Allah SWT juga mengingatkan akan(2) kehidupan di bumi yang tidak kekal serta adanya hari kebangkitan (Q.7:25) (agar Adam dan keturunannya tetap teringat bahwa suatu saat akan kembali menghadap-Nya)dan (3) memberikan pakaian baru bagi keduanya yang kini tengah telanjang. Pakaian tersebut ada tiga macam: pakaian untuk menutupi aurat, pakaian indah untuk berhias diri, dan pakaian taqwa (Q.7:26).

(*Catatan: dengan adanya surat Al Araaf ayat 26 tersebut, berarti pada jaman penciptaan manusia [Adam] sudah dikenalkan tiga jenis pakaian beserta kegunaannya. Yang pertama pakaian untuk menutupi aurat, yang mungkin lebih kita kenal sebagai pakaian keseharian. Yang kedua pakaian indah untuk berhias, yang lebih kita kenal sebagai pakaian untuk digunakan pada acara-acara tertentu.Dan yang terakhir pakaian taqwa, atau yang lebih kita kenal sebagai baju-taqwa atau baju untuk beribadah. Namun beberapa ahli ada juga yang mengambil makna ayat tersebut sebagai metaforis, yakni sebagai adab dan tatakrama, perhiasan indah dan gemerlap duniawi, serta ketaatan yang lebih utama dibandingkan kesemuanya.

Pada peristiwa diturunkannya Adam dan Hawa di bumi ini, juga menjelaskan bahwa Adam dan Hawa di dunia hidup dengan tercukupi kebutuhan utamanya: papan [bumi untuk berdiam dan tinggal]; pangan [bumi bersama makhluk hidup dan kekayaan alam yang diwariskan di dalamnya]; dan sandang [tiga macam pakaian tersebut sebelumnya])

Turunlah keduanya (Adam dan Hawa) di bumi pada dua tempat yang terpisah. Menurut kisah, Adam diturunkan di Safa (Srilanka) tepatnya di puncak bukit Sri Pada, sedangkan Hawa diturunkan di Marwa. Kemudian bertemu keduanya di Jabal Ar Rahmah setelah 40 hari berpisah. Pertemuan inilah terlahir kehidupan sosial pertama di dunia yang mana Hawa saat itu telah mengandung anak Adam yang pertama. Konon setelah bersatu, mereka menetap di Srilanka, karena menurut kisah daerah Srilanka memiliki karakteristik yang nyaris mirip dengan keadaan surga. Di tempat ini pula ditemukan jejak kaki Adam yang berukuran raksasa (hal ini dapat dilihat pada artikel berikut http://www.sacredsites.com/asia/sri_lanka/adams_peak.html namun demikian perlu penelitian lebih lanjut hubungan lebar jejak telapak kaki di Srilanka dan tinggi tubuh Adam menurut HR. Imam Bukhari).

Di bumi, pasangan Adam dan Hawa kemudian melahirkan anak kembar pertama yakni Habil (laki-laki) dan Iqlima (perempuan), beberapa tahun kemudian melahirkan lagi pasangan kembar Kabil (laki-laki) dan Labuda (perempuan). Konon keturunan dari Hawa selalu terlahir kembar (kecuali yang terakhir) dan melahirkan sebanyak 21 kali, sehingga total keturunan kembar adalah 40 (http://id.wikipedia.org/wiki/Adam ) dan seorang anak tanpa kembaran (Jawaban Saiful Rizal untuk Zakia Khairunnisa dalam http://www.sufiz.com/kisah-nabi/kisah-perkawinan-di-zaman-nabi-adam-3.html ). Setiap anak dari Adam dinikahkan dengan saudara yang bukan sekembarannya. Namun, terdapat konflik yang mengakibatkan adanya peristiwa pembunuhan persaudaraan, yakni ketika Kabil tidak ingin menikah dengan saudari Habil dan lebih memilih saudari sekembarnya sendiri. Pembunuhan inilah yang menjadi bukti peringatan oleh Allah SWT bahwa “..sebagian dari manusia menjadi musuh bagi yang lain…”.

***

BAB IV

Sampai saat ini masih dilakukan banyak penelitian mengenai bukti-bukti kebenaran kehadiran Adam dan Hawa di bumi. Bagaimanapun hal ini tertulis dalam firman-firman-Nya. Baik itu berupa Alkitab maupun Al Qur’an. Meyakini hal ini sangat penting, namun terkadang mencari fakta dan kebenarannya jauh lebih mulia bagi orang yang berpikir.

Semua yang terjadi adalah dengan ijin-Nya. Ketaatan dan godaan berdiri di antaranya. Namun sudah kodrat, manusia mengikuti hasratnya. Baik-buruk hanya ungkapan penilaian. Benar-salah hanya perbedaan pandangan. Selama akal kita tetap berfikir, hati senantiasa hidup, nafsu akan selamat dari jeratan kefanaan. Kita sendiri adalah ruh yang terperangkap dalam lumpur duniawi, berada di dalam penjara ruang dan terpasung waktu. Dewasa ini, kita bisa berpikir terbuka, lebih arif dalam hidup, dan bijaksana membawa diri. Pernah berkata: “…inilah godaan duniawi…” Apa benar dunia adalah godaan?! Adam sendiri tergoda di surga. Wallahu a’lam. Yang jelas, kehidupan ini sendiri berupa godaan. It’s irresistible.

Sumber:

  1. Al Quran
  2. Al Hadist
  3. Ensiklopedia Islam untuk Pelajar (penerbit: PT Ichtiar Baru Van Hoeve)
  4. Penciptaan Adam dalam artikel kristiani (http://www.christiananswers.net/indonesian/q-aig/aig-adamforkids-i.html )
  5. Wikipedia Adam (http://id.wikipedia.org/wiki/Adam)
  6. Artikel-artikel terkait yang langsung tercantum di atas.
  7. Alkitab (saya membaca untuk saya renungkan pula)

Baca juga:

  1. Artikel mengenai Qabil dan Iqlimah yang berwarna kulit putih, dan Habil dan Labuda yang berkulit hitam pada artikel http://id.shvoong.com/social-sciences/anthropology/2188040-taksonomi-manusia/
  2. Artikel mengenai diturunkannya jin di dunia di tanah Jawa dalam cerita keturunan Adam pada http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10336182
  3. Bahkan pada artikel berikut kisah terbunuhnya Habil oleh Kabil juga tertulis dalam Al Kitab pada kejadian 4:25, http://www.akupercaya.com/jawaban-kristen/13942-silsilah-adam-dan-hawa.html

Jangan lupa juga akan:

  1. Akal pikiran dan hati untuk kreativitas dan daya cipta. Sumber daya kreasi, pengetahuan, dan hidayah yang paling mulia langsung dari “Sumbernya”.

Catatan:

Percakapan dan analogi dalam artikel ini hanya berupa kisah-kisah yang tujuannya memudahkan penyampaian isi cerita.

http://www.facebook.com/perdana.official

Terima kasih. Wassalam.

Advertisements

4 thoughts on “Irresistible

  1. saya baru baca bab pertama. tapi selama ini saya selalu mempertanyakan keadilan tuhan. ketika tuhan mengajarkan kepada adam dan tidak kepada malaikat. ya jelas saja adam tahu dan malaikat tidak… kalo menurut saya, seharusnya diajarkan semua, dan baru, ketika si adam mampu mengingat dan mengembangkan apa yang diajarkan, sedangkan malaikat tidak, baru terbuktilah keunggulannya. saya rasa kurang apple to apple…
    lalu tentang menjadi khalifah di muka bumi, saya suka dengan kesimpulan anda tentang manusia purba. baru. cukup mencerahkan.
    sebelumnya saya pernah dapat teori, kalo yang menjadi kalifah di muka bumi sebelumnya itu adalah koloni iblis. karena dia memerintah hanya dengan nafsu, maka jadilah kerusakan. makanya tuhan bilang ada yang berbeda dengan mahluk baru ini, adalah karena manusia diciptakan atas perpaduan iblis dan malaikat. jadi nafsunya ada dan unsur taat malaikat juga ada. otak juga berperan penting.
    tapi teori itu saya anggap gagal, karena berarti iblis sudah memabangkang sejak lama. sedangkan iblis itu membangkan pertama ketika disuruh sujud sama adam.
    pemberi teori itu bilang kepada saya untuk membedakan antara membuat kerusakan dan membangkang. tidak ada unsur membangkang dalam berbuat kerusakan. karena berbuat kerusakan itu adalah fitrah iblis yang hanya memiliki nafsu saja. sedangkan pembangkangan pertamanya memang ketika disuruh sujud itu.
    begitu..

    1. saya sebenarnya juga mempertanyakan hal yang sama. sangat memungkinkan hal itu terjadi.
      “Tuhan memanggil ketiganya (Adam, malaikat, dan jin) mengajarkan kepada mereka mengenai banyak hal. namun Adam yang paling paham dan mudah mengembangkan apa yang diajarkan oleh Tuhan”
      saya suka masukan ini. membuat Tuhan tampak lebih “adil” kepada makhluk2 Nya.
      “dan karena Adam memiliki akal yang tercipta untuk ‘berpikir’ maka dengan mudahnya Adam menjelaskan kembali dengan pemahaman-dan pengembangannya kepada keduanya (malaikat dan jin)”
      I like that! thank you!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s