Pancasila dan Sayap Garuda

5104226627001_5244682653001_5214868250001-vs

Di bawah naungan awan, kemilau hijau daun-daun surga bercahaya, memantulkan sinar keemasan mentari jingga. Nusantara yang ceritanya bergema hingga di ujung dunia, berdiri kokoh pasak gunung-gunung api. Seribu aksara dan kata mewarnai budaya. Doa di tiap langkah dan tingkah menguntai jiwa. Mengikat sukma pada Hyang Widhi, menjelma santun pada pertiwi.

Langit adalah ayah, Bumi adalah bunda, segala yang hidup adalah saudara. Insan yang hampa akan kuasa, menyungging senyum para pertapa, menyejukkan jiwa di tiap kata, menjadi lentera bagi sesama.

Apa yang digenggam adalah apa yang dipinjam. Apa yang kini telah datang kelak akan pergi dan hilang. Apa yang dicari akan hadir kembali. Apa yang dinanti akan senantiasa mengikuti.

Bintang-bintang menaburkan rahasia surga, menarikan melodi yang membuka cakrawala. Gajah dan Rusa menjadi tuan di rumah jenggala. Angin dan hujan menghalau terik ke ujung samudra. Segara mengalunkan ombak membawa sampan.

Apa yang merupa nilai dan menaungi ini semua, jika bukan Pancasila dan sayap Garuda.

092687100_1433137341-elang_1_pinterest

PANCASILA dan SAYAP GARUDA

Sebagai warga Negara Indonesia, pedoman tertinggi dalam hidup berbangsa dan bernegara adalah Pancasila dan seluruh butir-butirnya. Tanpa memahaminya kita bagai manusia hilang arah, tak berbudaya, tanpa karakter.

A. IKATAN MASA LALU, SEKARANG, DAN MASA DEPAN

“Apa dasar Negara Indonesia yang akan kita bentuk ini?”

Pertanyaan lugas oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat membuka jalan bagi idealisme Nusantara untuk hadir ke dalam kandungan Ibu Pertiwi. Pada 1 Juni 1945, Soekarno melantangkan prinsip-prinsip nilai kebangsaan yang menjadi acuan perumusan Pancasila.

Dari berkumpulnya para Sembilan Cendikia kali pertama (22 Juni 1945) hingga kali kelima (5 Juli 1959), segala kebijakan dan sikap sepenuhnya untuk membuahkan mahakarya ideologi yang kini kita sebut Pancasila.

Pancasila berarti Lima Dasar, yang menjadi lima nilai mendasari setiap perilaku berbangsa dan bernegara kita. Tidak pernah berubah, bagai titah langit yang mengikat waktu dan peradaban di masa lalu (sebagai harapan), masa kini (sebagai nilai yang diperjuangkan) dan masa depan (sebagai tradisi sakral yang diwariskan). (tautan)

 

B. GARUDA EMAS PENGGENGGAM RAGAM

Garuda yang menjadi keperkasaan bagi Nusantara lahir dari mitologi Hindu, “Garuda”. Bulu-bulu emasnya menghiasi kejayaan dan kemegahan istana raja-raja pertiwi. Kedua sayapnya terbentang lebar-lebar menunjukkan kedigdayaan yang meliputi barat dan timur semenjak hari ke-17. Kedelapan surai ekor emasnya enjuntai anggun semenjak bulan ke-8. Keindahan tajuk bulu-bulu emas yang membingkai lehernya makin berkilau sempurna semenjak tahun 1945.

Kekokohan kaki-kaki emas mendasari langkah-langkahnya dalam ikatan keragaman budaya dan nilai “Bhinneka Tunggal Ika”, Beraneka pun Satu Jua. Apa yang menjadi perbedaanlah yang menyatukan jiwa. Untaian kata yang meminjam makna dari Sanskrit pujangga suci Mpu Tantular, Sutasoma (tautan).

Di dadanya sebuah perisai megah bermantra lima yang melindungi. Mantra pertama yang memberikan pelita dalam gelap: kartika. Mantra kedua yang mengikat jalma sebagai insan setara dalam budaya: pertalian. Mantra ketiga yang mengokohkan negri menjunjung langit: mendira. Mantra keempat yang memuliakan muktamar dengan kehormatan: andeka. Dan mantra kelima yang menjaga hati dalam kesederhanaan: Antah dan Randu.

Kemuliaan dan kejayaan dalam kesederhanaan sikap menjadi peringai Garuda yang menjelajahi langit hingga kembalinya ke istananya di puncuk tinggi jamrud katulistiwa ditengah lindungan cincin api.

national_emblem_of_indonesia_garuda_pancasila-svg

 

C. PANCASILA dan 45 BELENGGU SISIK EMAS

Pancasila sebagai ideologi nilai tertinggi memiliki 45 nilai yang menguntai tindak tanduk jalma manungsa menjadi jalma nusantara. Dia lah yang merangkai ribuan warna permata katulistiwa, yang menghadirkan kedamaian dalam keragaman, yang menjadi bulan di kala malam, dan yang menggiring awan di terik siang. Ini lah yang menghantarkan Indonesia hingga menjadi Negara bertaji di Asia Tenggara. Memupus kesenjangan dan mendirikan keadilan.

Lima dasar yang memasung ego mana dengan kesantunan untuk hidup berdampingan dengan segala perbedaan. Lima dasar manifestasi pribadi diri:

1

Sila pertama: Kartika (Bintang).
KETUHANAN YANG MAHA ESA

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

 

golden-chain-1423233324KCQ

Sila kedua: Pertalian (rantai).
KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB

  1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
  9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

 

unnamed

Sila ketiga: Mendira (Beringin)
PERSATUAN INDONESIA

  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

 

gambar-observasi-banteng-jawa

Sila keempat: Andeka (Kepala Banteng)
KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN DAN PERWAKILAN

  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan

 

cotton field.jpg

Sila kelima: Antah dan Randu (Padi dan Kapas)
KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA

  1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  4. Menghormati hak orang lain.
  5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  9. Suka bekerja keras.
  10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

 

Menjalankan lima sila dalam kehidupan mewujudkan diri yang bernusantara sepenuhnya. Lima sila bukan agama, lima sila bukan sekedar tradisi, lima sila adalah yang menjadikan diri berlaku Indonesia.

Salam,

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s