Pen-Jiwa-an

picture link: http://www.demotix.com/news/393360/fashion-show-four-young-indonesian-designers

Menurut Rio (Tex Saverio, fashion designer 26 tahun), ia dapat menciptakan gaun fenomenal semacam itu karena selalu berpikir bahwa tiap rancangan memiliki jiwa tersendiri. “Ini adalah tentang jiwa. Saya ingin setiap karya saya memiliki jiwa. Itu akan membuat banyak perbedaan,” terang Rio. [dikutip dari Viva news (Kamis, 14 April 2011, 14:18 WIB).

_____________________________________________________

 

Saya tidak tahu, namun saya yakin ketika ia mendesain, tidak semata-mata menyatakan “desain adalah proyek”. Ia mungkin menyatakan bahwa “desain adalah karya”. Hal ini membuatnya berpikir: desain ini akan menjadi prototype diri saya. Maka ia tidak akan membuat desain hanya untuk memenuhi janji pemenuhan tenggat waktu atau memenuhi permintaan klien.

 

Desain adalah karya. Setiap awal membuatnya, ia akan merasakan dari dalam, bagaimana karya ini akan hidup; bagaimana karya ini ingin terlihat sempurna; bagaimana karya ini akan “menjadi”. Ia menuruti yang namanya passion dan naluri, semua raga; nalar; dan pikiran akan terabaikan dan beralih sepenuhnya untuk “mencipta”, lebih tepatnya “berkreasi” dalam olahan ekspresi. Rasa khidmat dalam berkarya itulah yang akan membuatnya menikmati setiap detak jantung dan tarikan nafas dalam hidup.

Hingga akhirnya terbesit dalam hati: “saya tidak bisa hidup tanpa berkarya”.

 

 

Ia bisa melupakan hidup, melupakan waktu bekerja, melupakan saatnya makan malam, melupakan buruknya tempat ia mendekam, bahkan melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Passion yang begitu hidup itulah yang akan menguasai diri dan kesadaran hatinya. Semuanya menjadi terarah di saat semua “di luar” hilang arah, semua menjadi begitu terang ketika semua “di sekitar” memulai petang, semua menjadi asyik (nikmat) walau keadaan duniawi kian menghardik. Inilah yang namanya lupa diri.

Lupakan fee dan nikmati berkreasi!

 

 

“Jangan paksakan saya berkaya menuruti kemauan Anda!” ini karya murni, karya yang dipilin dengan balutan emosi. Tanda mata ekspresi diri. Membuatnya bukanlah menguras tenaga, namun mengorbankan kesadaran jiwa. Bahkan melupakan siapa itu “saya” dan melupakan sepenuhnya dunia, tetapi “saya” ada untuk mencipta, melahirkan kebutuhan rasa: kreasi nyata.

“Jangan salahkan karya saya, namun mungkin salahkan saya, …ibunya.”

 

 

Penciptakan yang begitu agung ini selalu menjadi sakral bagi penciptanya.

 

 

Lupakan apa itu jaman, lupakan apa itu waktu, lupakan siapa itu klien, lupakan apa itu uang. fokus dan berkaryalah. Setiap desainer/artis (artist=seniman), menyimpan ruang kosong dalam hatinya untuk berkontemplasi. Inilah ruang pokok dimana ia menemukan sejenak segala yang bersumber pada pencerahan: naluri; hati; khusyuk; ruh; dan bahkan mungkin… Tuhan. Di ruang itulah ia bermeditasi jauh dari keramaian dan hiruk pikuk duniawi, merasakan keinginan jiwanya dan merasakan keinginan “jiwa baru” yang akan ia lahirkan ke dalam dunia (dalam bentuk karya).

Semakin dalam ia rasakan, akan semakin terbawa ia dalam nikmatnya ruang suci dalam dirinya. Segala inspirasi yang “murni” akan ia terima dengan tanpa beban dan tuntutan… hanya terlintas dalam-dalam dan terasa begitu “benar” dan “tepat”. Yap! “Inilah saatnya saya bergerak”

 

 

Dan bayi baru pun akan terlahir di dunia, merupa sang karya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s