Cerita kecil ayah (catatan untuk anaknya)

(Senin, 22 November 2010) – 01.00AM

Pada malam Jum’at lalu, tanggal 17 November, saya dan ayah saya sempat banyak berbincang-bincang mengenai kehidupan masa lalu. Saat ayah saya dan orang tua beliau banyak belajar hidup dari alam, sumber kehidupan yang paling mulia. Ia mengatakan bahwa dahulu kita dapat berkomunikasi dengan alam, saling menyapa, dan saling memberi. Pada saat itu, kebijakan hidup dapat dikatakan: sebuah cara hidup manusia (menyatu antara alam dan manusia).

Saya yang minim pengalaman hidup ini mencoba merangkum perbincangan ayah saya saat itu dalam beberapa kalimat sederhana sebagai berikut:

 

 

1. Tuhan menciptakan segala sesuatunya seimbang dan sempurna.

Ayah saya tidak mengambil contoh mengenai keseimbangan visual perangkat tubuh manusia yang biasa dicontohkan oleh guru-guru pendidik setiap tahunnya seperti di sekolah. Beliau malah mengambil contoh yang lebih makro. Beliau menyatakan bahwa alam-alam itu diciptakan dengan saling menyeimbangkan dirinya sendiri, sebuah siklus hidup yang berputar selalu untuk mencapai tingkat yang paling baik. Daur kehidupan. Atau juga sebuah kesadaran kemandirian alam.

Seperti halnya keseimbangan asam-basa tanah, Tuhan menciptakan penyakit juga beserta obatnya. Kata beliau, “engkau tahu buah durian nak?! Kau tahu bagaimana cara menghilangkan bau durian setelah kita memakan buahnya yang enak itu? Cukup berilah itu air ke dalam ceruk-ceruk kulit durian dalam itu, dan cucikanlah tangan dan mulutmu di dalamnya…” ya, ayah saya yang memberi tahu saya mengenai hal itu, dan dari dulu kami melakukannya. Hal itu benar menurut pengalaman saya dan saya sempat berpikir apakah sudah ada kajian keilmuan mengenai hal ini?!

Lalu contoh lain adalah kepiting. “saat ayah kecil, ayah pernah diajarkan oleh kakek ayah bagaimana mengobati sakit bekas capitan kepiting… caranya, cukup oleskan lendir dari punggung kepiting yang berada tepat pada antenna kecil dipunggungnya, maka sakit itu akan sembuh dengan sendirinya…”

Atau kata ibu saya. “ternyata cara mengobati bekas gigitan ular beracun adalah dengan memotong bagian ekor ular itu, kemudian tempelkan pangkal potongnya kepada bekas gigitan ular… nanti racunnya akan hilang,”

Saya belum pernah mencoba akan kedua hal terakhir itu. Walau kelihatannya menarik, tapi saya tidak terlalu baik berharap untuk dicapit seekor kepiting atau hanya sekedar digigit ular berbisa. Iya khan?!?

Keseimbangan alam ini akan terus bekerja, ia terus menyusun hal-hal untuk regenerasi diri. Untuk mendapatkan keadaan paling seimbang dalam sikliknya. “Bencana alam itu lumrah, itu bagian dari usaha alam menyeimbangkan diri…”

 

 

2. Tidak ada hal yang diciptakan Tuhan melainkan selalu ada hikmah
dibaliknya.

Ilmu falak kuno ternyata sudah lebih kompleks dari yang saya tahu saat ayah saya masih kecil. Ilmu perbintangan astronomi bukan hanya menyangkut dua belas rasi bintang mengenai “keungan, percintaan, dan karir”, tetapi juga mengenai cara hidup dan menciptakan kehidupan yang lebih maju. Percaya atau tidak astrologi kuno juga menyingkap perkembangan mendirikan sebuah rumah, atau sekedar tanda alam untuk sebuah kejadian di masa depan.

“Dahulu semasa ayah kecil, bintang-bintang di langit lebih banyak dari jumlah lampu di dunia. Kakek dari bapak menceritakan mengenai keajaiban pasir cahaya itu setiap malam… kami duduk di luar dekat sawah… sambil memandang ke atas langit yang setiap saat selalu berkilau mungil. Kau tahu bagaimana kami menemukan alat bajak sawah, nak? Kami melihat bentuk alat bajak itu dari sebuah rasi bintang… bentukannya sangat detail hingga besi bajak lengkung itu juga tergambar jelas… dari itulah kami mencontoh alat bajak yang telah berkembang menjadi seperti saat ini…”

Yah jujur saja, saya tidak tahu kalau kejadiannya begitu (masalah percaya atau tidak, saya hanya memberikan jatah 50%).

“seperti halnya alat bajak, kami juga membuat rumah dari ilmu bintang-bintang. Semua ada di langit. Bintang-bintang seperti surat dari surga untuk membimbing manusia…” tapi saya mohon jangan samakan dengan lafal dari Tuhan dalam surat-surat suci-Nya.

“di jaman dahulu, semua orang memiliki sense yang peka terhadap tanda-tanda alam. Bintang-bintang merupakan salah satunya. Kakek dari ayah bercerita apabila posisi bintang tertentu berada pada sisi bulan tertentu, berarti akan ada kejadian besar terjadi…” mungkin saat itu, menurut saya, ayah dan orang pada jamannya sangat mempercayai kekuatan alam adalah nyata.

Beliau dahulu mempelajari hidup dari alam. Menyelami alam, masuk ke dalam dunia belantara yang penuh tantangan dan rahasia Tuhan. Ilmu pengetahuan adalah pengalaman. Seperti obat-obatan kuno, jamu adalah sedikit rahasia alam yang dahulu dianggap sebagai racikan berkhasiat dan kini menjadi ilmu pengobatan. Daun-daun dan berbagai bunga bisa menjadi obat (walau terkadang rasanya sangat tidak enak).

Menurut beliau, hikmah (ilmu pengetahuan) dari setiap hal itu sebenarnya ada, tinggal seberapa peka kita terhadap pesan-pesan kalam Tuhan itu. Alam yang membentang ini bak kanvas yang berisi jutaan ilmu dalam sandi-sandi ajaib-Nya. Tersembunyi namun tampak, hanya saja kita peka atau pekok!? (he he he)

 

 

3. Segala kerusakan di bumi diciptakan oleh manusia sendiri.

“Gunung adalah sakral, para tetua luhur apabila sakit, cukup naik ke gunung, dan tengah ia kembali ia sudah pulih jua…” ternyata tidak hanya di tanah Jawa mengenai kesakralan gunung, di tanah Sumba juga ternyata…

“Tuhan memang menciptakan langit dan laut kemudian menciptakan daratan dengan gunung-gunung ditancapkan sebagai pilar-pilar pengokohnya… itu semua benar, nak… namun saat ini, gunung-gunung sudah dijajah, dijarah hasilnya, dikeruk intinya… gunung dan bukit adalah kesatuan, keduanya saling mengokohkan, nak. Jika saat seperti saat ini: bukit sudah dirampas tanah-pohonnya, dihancurkan batu-buminya, tak heran gunung-gunung api mulai labil… lha, tanah pengokohnya sudah diratakan… mau apalagi, kalau terjadi bencana, jangan coba salahkan alam,”

Alam itu tidak bisu, ia mendengar, ia berbicara, ia melihat dan merasakan dengan caranya sendiri. Bahkan berkali-kali mencoba berkomunikasi dengan manusia, namun terlalu sedikit yang mengacuhkannya.

“Nak, angin dan gunung adalah hal yang terikat. Dahulu orang-orang lebih memilih tinggal di kaki bukit. Membiarkan bagian puncak-puncak yang perawan adalah milik alam. Angin akan berhembus kencang dan terpecah kecil karena bukit dan gunung-gunung itu berdiri tegar. Oleh sebab itu, di kaki bukit, kita akan merasakan udara semilir kecil yang sejuk dan suasana yang tenang dan aman… seperti kalau kita tinggal di atas bukit.. namun sekarang, bukit dan gunung-gunung sudah dipancangkan pasak-pasak besar, bahkan hutan dan bebatu-nya digali dan diringkus dengan rakusnya, tidak heran tanah bukit kemudian melongsor, angin-angin berputar kencang, dan badai tak kunjung usai… itu adalah cara alam berbicara sebagai bentuk akibat, nak…”

Tuhan tak usah turun tangan untuk membinasakan manusia. Tangan suci-Nya terlalu bersih untuk menyentuh manusia-manusia kotor seperti kita ini. Biarkan saja hukum alam yang berkerja: Keseimbangan alam yang terus akan bergerak. Jika manusia bisa bebas menghancurkan alam, sah-sah saja bagi alam untuk berbuat sebaliknya.

 

 

4. Surga bukan ada di sana (saja).

“Surga diceritakan begitu indah, hijau menghampar dengan berbagai buah segar dan manis di dalamnya. Sungai-sungai berair susu dan madu mengalir di bawahnya…” apakah ini cerita mengenai alam dunia? Mungkin saja. Tapi saya yakin itu alam dunia ketika masih perawan akan dosa. Dunia dengan berbagai iklim utamanya tropis, akan memiliki jenis tanaman yang beraneka rupa lebih banyak. Serta keadaan tanah dengan geografis yang menghubungkan gunung dan laut terkaitkan oleh dataran-dataran yang berombak dengan aliran sungai-sungai yang deras. Surga bukan ada di sana (saja).

“Tuhan menuliskan kalimat penggambaran surga itu, agar kita berpikir, nak. Dia mengatakan bahwa segala sesuatu Ia ciptakan agar kita bepikir, bukan hanya bertindak… Ia menciptakan dunia ini untuk kita jaga. Sifat-sifat keindahan surga itu sebenarnya sudah ada di bumi ini sebagai modal… tentu semua bergantung pada bagaimana kita memanfaatkannya…”

“Manusia cenderung rakus akhir-akhir ini, semua ingin didapat, semua ingin disikat! Pohon-pohon dengan buah-buah yang beraneka tidak lagi tumbuh subur, mereka sekarat oleh udara yang berbau busuk dan air sungai yang beracun. Nak, sungai-sungai kemilau yang rasanya manis sudah jauh dari sifat surgawi, berubah menjadi sungai-sungai kotor tempat membuang dosa hubungan haram alih-alih lumbung limbah bagi pabrik-pabrik beracun..”

Yah, saya tidak heran kalau kita makin mengimpikan surga dan hanya cukup memimpikan saja…  mungkin dahulu para leluhur tahu, bahwa alam ini titipan Tuhan, dan karena mereka belajar dengan alam, tentu saja kedekatan hubungan “cinta” ini diwujudkan dalam rasa hormat kepada alam (sebagai wujud syukur kepada Ilahi).

 

 

5. Kebijakan kuno itu adalah ilmu rahasia alam yang belum terbongkar
sepenuhnya.

Menurut saya, semua itu adalah kebijakan-kebijakan kuno yang seharusnya wajib dikembangkan. Tidak hanya dijaga kelestariannya sebagai salah satu budaya dan kultur rakyat. Ini adalah pesan turun temurun para luluhur bersama alam. Kebijakan kuno ini hanya menunggu waktu hingga terbongkar rahasianya menjadi ilmu pasti. Sementara dahulu para tetua menyingkap dengan cara mereka dalam sajian mitos dan lagenda penuh fiksi.

Itu semua hanya ilmu pengetahuan yang menunggu untuk dipecahkan. Menunggu seorang yang tercerahkan untuk membongkar.

Saya ingat pada cerita ayah saya mengenai cerita kakeknya, “dulu sempat kakek berkata bahwa di masa mendatang saat ayah kelak dewasa… ayah akan menemukan besi-besi ini akan terbang melayang di langit…”

Cerita itu memang penuh fiksi, tapi saat ini itu adalah kenyataan akan ilmu pasti adanya jawaban untuk: pesawat terbang yang membawa ayah saya datang ke tanah jawa dan menemukan bagian dirinya, yang kemudian melahirkan saya sebagai simbol utuh kecintaannya terhadap Tuhan…

 

 

6. Manusia kini rakus dan egois.

Saat perbincangan itu, saya menceritakan pandangan saya yang sempit mengenai rumah tropis di Indonesia ini… saya mengatakan bahwa seharusnya rumah-rumah di Indonesia itu memilki atap-atap miring dengan sosoran yang lebar. Hal ini semata-mata sebagai adaptasi fisiologis rumah terhadap iklim tropis basah yang selalau membawa hujan sepanjang tahun.

Saya juga menceritakan, sebenarnya kita tidak membutuhkan rumah dengan cat warna-warni, kita sudah ada hias ukir yang indah dan rumah bergaya kepolosan pribumi yang begitu jujur terhadap iklim alam. “Gaya ‘minimalis salah kaprah’ itu telah merusak kebijakan kuno akan arsitektur pribumi, yah. Dahulu bahkan setiap ukiran memiliki kandungan filosofi sendiri yang kini malah dihilangkan menjadi dinding datar dengan gaya bebas penuh warna…. runyam…”

Ayah saya malah menimpali…

“Jangan begitu nak, biar saja rumah ini-itu berdiri, gaya ini-itu berganti, itu semata-mata karena manusia cepat berubah dan ingin mencoba hal baru… coba bayangkan kalau saranmu itu dipenuhi oleh semua rumah di kota ini saja. Rumah menjadi awet sangat lama, tak butuh cat, tak butuh banyak reparasi ini-itu… berapa banyak perusahaan cat yang harus hengkang dari kota ini… berapa banyak pengusaha kecil pasir dan semen untuk setiap atap datar yang kamu kurangi… dan juga berapa orang kecil yang hidup dari usaha perbaikan rumah yang kian tidak laku…. Biarkan saja rumah-rumah itu berdiri tidak sempurna, kita toh juga harus berbagi rejeki dengan mereka… berbagi lapangan kerja, supaya makin banyak yang bisa makan enak seperti kita…. Kamu jangan terlalau berpikir sempit dari sisi kamu saja, nak. Berpandanglah secara beragam dari berbagai sisi, supaya kamu tidak gampang menyalahkan segalanya dan biar kamu lebih berpikir positif dalam hidup…”

 

 

Yah, mungkin saja pesan-pesan ayah saya dalam bentuk cerita kecil  ini… bisa berguna bukan hanya untuk saya saja, tapi juga untuk kita dan dunia… bukankah kita selalu mencoba untuk memperbaiki hidup kita sebenarnya?!?! Saya rasa bukan hal buruk untuk kembali pada kebijakan kuno leluhur bangsa buana tengah ini.

Terima kasih ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s